Benar tidaknya kabar perombakan kabinet (reshuffle), tak hanya jadi pertanyaan besar para politisi, tapi juga kalangan pengusaha.
Asosiasi Pengusaha Inonesia (Apindo) menanyakan langsung soal reshuffle kabinet pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Kami meminta ke Bapak Presiden, bahwa demi kepastian hukum dan bursa kita, supaya menteri tenang, kalau mau ada reshuffle, ya reshuffle," kata Ketua Umum Apindo, Sofjan Wanadi, di Kantor Sekretariat Negara, Selasa 20 September 2011.
Menurut Sofjan, kabar soal perombakan kabinet tersebut dinilai membuat resah sejumlah pihak, termasuk para pengusaha. "Jangan membuat semua resah dan kita tidak bisa kerja karena semua menunggu-nunggu nasib," kata dia
sementara itu Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Gaffar Karim menilai, reshuffle bisa saja dilakukan kepada menteri yang kinerjanya di bawah standar. Namun, pelaksanaannya tidak mudah. SBY akan mempertimbangkan implikasi politik. Senada dengan Gaffar, pengamat politik Sigit Pamungkas mengatakan, tak mudah mencopot Muhaimin Iskandar dan Andi Mallarangeng meski nama keduanya disebut-sebut dalam kasus korupsi.
Namun untuk Darwin Zahedi, memang tidak ada kendala karena selain dari kader Partai Demokrat (PD) sendiri, jasanya kepada presiden relatif kecil. Sebaliknya, Muhaimin meski dari luar PD, jasanya cukup besar di saat Pemilu Presiden 2009. Menku HAM yang sempat disebut-sebut gagal dalam penegakan hukum dan HAM di Indonesia, tetap saja masih dirangkul.
Sedangkan Freddy Numberi yang sudah mengecewakan publik soal angkutan Lebaran, barangkali hanya dijadikan simbol keberagamannya kabinet. Sigit menilai meski publik sudah jengah dengan rumor para menteri tersebut, untuk mempertahankan dan memperkokoh PD, SBY tetap tidak akan gegabah mencopot para menteri yang ‘berjasa’ baginya.
Mengenai kreteria siapa saja yang akan diganti, menurut pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Muhajjir Effendi, Presiden memiliki standar fatsoen sendiri. Ia mengungkapkan, reshuffle tidak mudah dilakukan karena pertimbangan faktor objektif seperti prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela (PDLTT) hanya 40%.
Sementara 60 persen faktor di luar PDLTT yang justru menjadi pertimbangan. Muhadjir mengakui, ada empat atau lima menteri yang dalam dua tahun terakhir ini merecoki soliditas KIB II. Pengamat politik LIPI Siti Zuhro berpendapat, alasan-alasan reshuffle yang mengemuka di publik kemungkinan besar berbeda dengan penilaian presiden atau UKP4. .
Asosiasi Pengusaha Inonesia (Apindo) menanyakan langsung soal reshuffle kabinet pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Kami meminta ke Bapak Presiden, bahwa demi kepastian hukum dan bursa kita, supaya menteri tenang, kalau mau ada reshuffle, ya reshuffle," kata Ketua Umum Apindo, Sofjan Wanadi, di Kantor Sekretariat Negara, Selasa 20 September 2011.
Menurut Sofjan, kabar soal perombakan kabinet tersebut dinilai membuat resah sejumlah pihak, termasuk para pengusaha. "Jangan membuat semua resah dan kita tidak bisa kerja karena semua menunggu-nunggu nasib," kata dia
sementara itu Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Gaffar Karim menilai, reshuffle bisa saja dilakukan kepada menteri yang kinerjanya di bawah standar. Namun, pelaksanaannya tidak mudah. SBY akan mempertimbangkan implikasi politik. Senada dengan Gaffar, pengamat politik Sigit Pamungkas mengatakan, tak mudah mencopot Muhaimin Iskandar dan Andi Mallarangeng meski nama keduanya disebut-sebut dalam kasus korupsi.
Namun untuk Darwin Zahedi, memang tidak ada kendala karena selain dari kader Partai Demokrat (PD) sendiri, jasanya kepada presiden relatif kecil. Sebaliknya, Muhaimin meski dari luar PD, jasanya cukup besar di saat Pemilu Presiden 2009. Menku HAM yang sempat disebut-sebut gagal dalam penegakan hukum dan HAM di Indonesia, tetap saja masih dirangkul.
Sedangkan Freddy Numberi yang sudah mengecewakan publik soal angkutan Lebaran, barangkali hanya dijadikan simbol keberagamannya kabinet. Sigit menilai meski publik sudah jengah dengan rumor para menteri tersebut, untuk mempertahankan dan memperkokoh PD, SBY tetap tidak akan gegabah mencopot para menteri yang ‘berjasa’ baginya.
Mengenai kreteria siapa saja yang akan diganti, menurut pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Muhajjir Effendi, Presiden memiliki standar fatsoen sendiri. Ia mengungkapkan, reshuffle tidak mudah dilakukan karena pertimbangan faktor objektif seperti prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela (PDLTT) hanya 40%.
Sementara 60 persen faktor di luar PDLTT yang justru menjadi pertimbangan. Muhadjir mengakui, ada empat atau lima menteri yang dalam dua tahun terakhir ini merecoki soliditas KIB II. Pengamat politik LIPI Siti Zuhro berpendapat, alasan-alasan reshuffle yang mengemuka di publik kemungkinan besar berbeda dengan penilaian presiden atau UKP4. .
dari sumber diatas dapat disimpulkan sementara bahwa reshufle kabinet yg santer terdengar masih sekedar isu belaka .
sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/248627-pengusaha-tanya-soal-reshuffle-ke-sby
http://www.suarapembaruan.com/home/isu-reshuffle-kabinet-menguat/11398
Tidak ada komentar:
Posting Komentar